Perkembangan Sejarah

Perkembangan Sejarah

Perkembangan sejarah dari masa tradisi lisan hingga era digital modern. Artikel ini membahas evolusi historiografi dan peran teknologi dalam penulisan sejarah.

Perkembangan sejarah yang merupakan disiplin ilmu yang berfungsi sebagai cermin bagi peradaban manusia.

Melalui sejarah, manusia tidak hanya memahami masa lalu, tetapi juga memperoleh wawasan untuk menentukan arah masa depan.

Perkembangan sejarah sebagai bidang ilmu mengalami perubahan signifikan, seiring dengan kemajuan metode penelitian, teknologi, dan paradigma berpikir.

Dari tradisi lisan hingga pemanfaatan kecerdasan buatan dalam historiografi modern, sejarah terus berevolusi mengikuti dinamika zaman.

Perkembangan Awal Sejarah Tradisi Lisan dan Catatan Kuno

Syarat dan Usulan Pendirian Perguruan Tinggi Swasta (PTS)

Sebelum munculnya tulisan, Perkembangan sejarah ditransmisikan melalui tradisi lisan — cerita rakyat, mitos, dan legenda yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tradisi kali ini sudah berfungsi menjaga identitas sosial, nilai moral, dan kearifan lokal suatu komunitas.

Seiring berkembangnya sistem tulisan, muncul bentuk catatan sejarah tertulis seperti prasasti, kronik kerajaan, dan dokumen administratif.

Di Indonesia, peninggalan seperti Prasasti Yupa di Kutai (abad ke-4 Masehi) menjadi bukti awal sejarah tertulis di Nusantara.

Menurut catatan Balai Arkeologi Nasional (2022), prasasti ini bukan sekadar bukti linguistik, tetapi juga representasi sistem sosial-politik yang sudah mapan.

Pada masa kerajaan besar seperti Sriwijaya dan Majapahit, penulisan sejarah mulai diinstitusikan dalam bentuk naskah-naskah seperti Negarakertagama dan Pararaton.

Keduanya tidak hanya menyajikan kronologi peristiwa, tetapi juga berfungsi sebagai legitimasi kekuasaan politik dan identitas kebudayaan.

Perubahan Paradigma Historiografi di Masa Kolonial dan Modern

Perkembangan Sejarah

Masuknya kolonialisme dapat membawa Perkembangan sejarah baru dalam bentuk penulisan sejarah di Indonesia.

Para peneliti Eropa memperkenalkan metode historiografi positivistik, yang menekankan fakta empiris dan kronologi.

Namun, penulisan sejarah kolonial sering kali bias — menonjolkan perspektif penjajah dan mengabaikan kontribusi lokal.

Setelah Indonesia merdeka, muncul semangat dekolonisasi sejarah. Para sejarawan seperti Sartono Kartodirdjo dan Taufik Abdullah memperkenalkan pendekatan new historiography dengan menempatkan rakyat sebagai subjek utama sejarah.

Pendekatan ini dikenal sebagai sejarah sosial, yang menekankan analisis struktur ekonomi, budaya, dan ideologi masyarakat.

Dalam konteks akademik modern, paradigma historiografi semakin beragam. Pendekatan interdisipliner—melibatkan antropologi, sosiologi, dan digital humanities—menjadi ciri khas Perkembangan sejarah di masa kini.

Sejarah tidak lagi dipandang sekadar kumpulan peristiwa, tetapi sebagai konstruksi naratif yang merefleksikan dinamika kekuasaan dan ideologi.

Baca Juga: Jurnal Terindeks Scopus

Digitalisasi dan Revolusi Penulisan Sejarah di Era Modern

Digitalisasi dan Revolusi Penulisan Sejarah di Era Modern

Perkembangan teknologi informasi membawa revolusi besar dalam cara sejarah diteliti, disimpan, dan disebarluaskan.

Konsep digital historiography kini menjadi tren utama dalam dunia akademik. Menurut laporan UNESCO Digital Archives (2023), lebih dari 60% lembaga arsip nasional di dunia telah melakukan digitalisasi dokumen sejarah mereka untuk kepentingan penelitian dan pendidikan.

Di Indonesia, lembaga seperti Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) telah meluncurkan portal arsip digital yang memungkinkan akses terbuka terhadap dokumen sejarah penting.

Selain itu, universitas dan pusat riset mulai mengintegrasikan teknologi seperti AI (Artificial Intelligence) dan machine learning untuk analisis teks sejarah, verifikasi sumber, hingga rekonstruksi data visual.

Media sosial dan platform digital juga berperan besar dalam membentuk cara masyarakat memahami sejarah.

Fenomena “public history digital” memungkinkan publik berpartisipasi aktif dalam penyebaran narasi Perkembangan sejarah.

Namun, hal ini juga menimbulkan tantangan serius, seperti distorsi informasi dan penyebaran hoaks sejarah yang dapat memengaruhi persepsi publik.

Bagi kamu yang ingin mengetahui biaya publikasi jurnal Scopus , Anda bisa kunjungi blog rivierapublishing.id atau klik teks biru di atas ya!

tombol whatsapp

Pentingnya Literasi Sejarah di Era Digital

Perkembangan Sejarah

Dalam konteks pendidikan dan kebijakan publik, literasi sejarah digital menjadi kebutuhan mendesak.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah mendorong integrasi pembelajaran berbasis sejarah digital di berbagai jenjang pendidikan.

Tujuannya adalah agar generasi muda tidak hanya mengenal fakta sejarah, tetapi juga mampu berpikir kritis dalam menafsirkan sumber digital.

Penguatan literasi sejarah juga penting untuk melawan fenomena historical disinformation — narasi palsu yang sering beredar di media sosial.

Institusi seperti Ridwan Institute dan GreenPublisher secara aktif mengembangkan program literasi sejarah dapat berbasis riset dan publikasi ilmiah terbuka untuk mendorong budaya akademik yang sehat dan kritis.

Kesimpulan

Perkembangan sejarah yang menunjukkan bahwa ilmu ini bukan sekadar rekaman masa lalu, tetapi juga instrumen refleksi bagi masa depan.

Dari tradisi lisan hingga digitalisasi arsip, setiap fase perkembangan menunjukkan adaptasi manusia terhadap perubahan zaman.

Riviera
Butuh tips & panduan publikasi jurnal Sinta/Scopus? Kami hadir untuk membantu manuskrip Anda sukses terbit di kancah akademik global. Tingkatkan kualitas riset Anda!